3. Fase Kontingensi (Modern)
Fase kontingensi merupakan salah satu aliran modern. Fase kontingensi ini muncul setelah konsep manajemen klasik dan manusia sosial dipandang memiliki kekurangan, oleh karena para ahli mengkombinasikan antara aliran klasik dan neo klasik untuk membuat konsep manajemen berdasarkan kondisi atau berdasarkan situasi.
Asumsi dasar pada teori kontingensi adalah:
1). Organisasi bukan entitas tunggal tapi mempunyai varian yang luas,
2). Tidak ada âtool universalâ yang cocok untuk semua varian organisasi,
3). Tugas manajer adalah menyesuaikan gaya manajemennya sesuai dengan varian organisasinya,
4). Konflik dalam organisasi muncul karena ketidaktepatan gaya manajemen yang diterapkan dengan varian organisasi yang dipimpinnya.
Ada tiga bagian utama dalam kerangka konseptual menyeluruh untuk pendekatan kontingensi yaitu:
1). Lingkungan,
2). Konsep dan teknik manajemen dan,
3). Hubungan kontingensi antara keduanya.
Teori Kontigensi ditandai dengan hadirnya konsep manajemen kualitas total (total quality managementâTQM) pada abad ke-20 yang diperkenalkan oleh beberapa guru manajemen, yang paling terkenal di antaranya W. Edwards Deming (1900â1993) and Joseph Juran (lahir 1904).
Deming, orang Amerika, dianggap sebagai Bapak Kontrol Kualitas di Jepang.Deming berpendapat bahwa kebanyakan permasalahan dalam kualitas bukan berasal dari kesalahan pekerja, melainkan sistemnya. Ia menekankan pentingnya meningatkan kualitas dengan mengajukan teori lima langkah reaksi berantai. Ia berpendapat bila kualitas dapat ditingkatkan,
- Biaya akan berkurang karena berkurangnya biaya perbaikan, sedikitnya kesalahan, minimnya penundaan, dan pemanfaatan yang lebih baik atas waktu dan material
- Produktivitas meningkatkan
- Pangsa pasar meningkat karena peningkatan kualitas dan penurunan harga
- Profitabilitas perusahaan meningkat sehingga dapat bertahan dalam bisnis
- Jumlah pekerjaan meningkat
Fase ini juga memiliki kelemahan di antaranya:
a). Metode dipakai bersifat kondisional maka setiap kondisi memerlukan satu metode sehingga jika dipakai pada kondisi yang lain, maka tidak akan cocok.
b). Kurang memberi perhatian kepada hubungan manusia. Oleh karena itu, sangat cocok untuk bidang perencanaan dan pengendalian, tetapi tidak dapat menjawab masalah-masalah sosial individu seperti motivasi, organisasi dan kepegawaian.
c). Konsep dari fase ini sebenarnya sukar dipahami oleh para manajer karena dapat menyangkut kuantitatif sehingga para manajer itu merasa jauh dan tidak terlibat dengan penggunaan teknik-teknik ilmu manajemen yang sangat ilmiah dan kompleks.
Nah, jadi begitu teman-teman. Sejarah mengenai Perkembangan Manajemen dari tiap fase. Semoga artikel ini mudah difahami oleh temen-temen sekalian.
Jadi sekian, pembahasan kali ini yaa teman-teman. Tetap semangat jalahin hidup ini, dan selalu support website ini agar bisa berkembang. Terimakasih đ